Salam

Selamat datang di blog tercinta paud KB Bentara Salatiga. Menyajikan berbagai informasi tentang pendidikan anak usia dini kelompok bermain Bentara Salatiga. Terima kasih. Pengelola

Arsip

Tampilkan postingan dengan label kelompok bermain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kelompok bermain. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Maret 2012

BELAJAR DI KB BENTARA

Kepala Sekolah KB Bentara, Maria Dolvianti Bora sedang berpose bersama dengan seorang Mahasiswa, namanya Moe,  dari Jepang yang datang melakukan Live in Panti Asuhan Bhakti Luhur Salatiga. Saat Bu Maria dan Bu Tyas mengajak anak-anak KB Bentara di Panti Asuhan Bhakti Luhur untuk berenang di kolam Maya, Salatiga, mahasiswa tersebut juga ikut mendampingi anak-anak kelompok bermain bentara salatiga untuk berenang di kolam renang tersebut di atas. Terima kasih mabk, sudah mendampingi anak-anak kami berenang di kolam renang Maya, salatiga. Kami mohon mbak ikut bercerita tentang pembelajaran di KB Bentara Salatiga. Salah satu teknik kami adalah belajar di alam, mengenal alam dan lingkungannya, antara lain mengjak mereka, anak-anak KB bentara Salatiga untuk pergi latihan berenang seperti yang dilakukan di kolam renang Maya Salatiga tanggal 9 Maret 2012.
PEMBELAJARAN TANGGAL 12 MARET 2012 DI GUWO 
 
Bu Tyas, Magnus (gambar atas) Bu Maria, Naomi (Naomi di Plorotan)
Hati-hati nak di putaran


Jumat, 22 Juli 2011

PERINGATAN ULANG TAHUN-KEBERSAMAAN








Kegiatan memperingati ulang tahun merupakan salah satu bentuk pembelajaran bagi para peserta didik di Kelompok Bermain Bentara Salatiga. Hal ini untuk memupuk kebersamaan di antara para peserta didik dan para peserta dengan dengan para guru.

Selasa, 05 Juli 2011

MENGENAL KB BENTARA LEBIH MENDALAM


Oleh: Maria Dolvianti Bora, Kepala Sekolah

Kelompok Bermain Bentara adalah salah satu PAUD non formal yang berlokasi di Jl. Tegalrejo Salatiga. KB ini berdiri pada tanggal 18 Agustus 2008, dan sekarang menginjak tahun pembelajaran yang ke empat. Dalam pembelajaran metode yang digunakan adalah metode BCCT. Visi : Prima at veritas et sapientia (unggul dalam kebenaran dan ilmu pengetahuan), misinya : mendidik anak usia dini yang cinta akan kebenaran dan ilmu pengetahuan. Sasaran pendidikan adalah anak-anak di sekitar daerah Tegalrejo dan sekitarnya serta melayani anak-anak Panti Asuhan Bhakti Luhur Salatiga.

Dalam pembelajaran, kami berpijak pada pendekatan holistik, dimana anak dilihat secara utuh, karena anak memiliki keunikan potensi, kemampuan masing-masing. Kegiatan pembelajaran pun lebih ditekankan pada penggunaan fasilitas yang ada di lingkungan sekitar anak. Misalnya untuk mengenal warna, anak diajak untuk belajar di kebun sekolah. Di dalam kebun tersebut berbagai kegiatan dapat dilakukan misalnya, pengenalan warna, bentuk, tekstur, angka, dll. Dengan demikian anak dapat lebih memahami materi pembelajaran.

Menyangkut gedung sekolah, kami melakukan kegiatan pembelajaran di rumah pengelola. Alasannya adalah bahwa pada usia 0-5 tahun, memiliki intensitas kelekatan yang relatif lebih, sehingga sekolah dikondisikan sebagai tempat bermain kedua. Oleh karena itu kami sering memotivasi anak dengan mengatakan [..]ayo.... besok pagi kita main bersama lagi[..], dengan suasana rumah anak merasa bahwa [..]dia[..] hanya pindah tempat main, dan bukan pergi untuk sekolah.
Hal ini kami kedepankan mengingat banyak kejadian yang ada di masyarakat, anak memiliki trauma dengan [..]sekolah[..] walau itu Kelompok Bermain, TK, dll.

Anak-anak juga memiliki kepekaan akan seni khususnya gerak dan laagu. Oleh karena itu, selama kegiatan pendidik menggunakan lagu-lagu karya sendiri untuk materi yang sedang dipelajari. Misalnya : untuk pengenalan anggota tubuh, jumlah, moral, pendidik menciptakan lagu [..]Jari-jari[..]. Syairnya demikian : Ini jari jempol, ini jari kelingking, ini jari tengah, ini jari manis, jangan lupa jari kelingking, da da da ayah dan ibu jariku adalah sepuluh, jari untuk menulis juga untuk menggambar bukan untuk mencubit teman, kakiku ada dua, yang kanan dan yang kiri, kaki untuk berjalan, berlari dan melompat, bukan untuk menendang teman.


Itulah sekilas tentang Kelompok Bermain Bentara, yang berkiprah di bidang PAUD. Prestasi yang pernah diperoleh adalah Juara I lomba cipta lagu anak oleh pendidik pada HAN 2007, sekota Salatiga, Juara II Lomba cipta senam oleh pendidik ceriah HAN 2009, Juara Harapan II Lomba tuk anak Menumbuk beras menjadi tepung HAN 2011.

Dan untuk kedepannya, KB Bentara berkomitmen untuk merealisasikan visi dan misi sekolah, demi kepentingan AUD di Salatiga dan sekitarnya.

Tulisan sudah dimuat di  


Rabu, 01 Juni 2011

BERLIAN

 Oleh : Maria D. Bora,  Pengelola KB Bentara Salatiga



Suasana kota Salatiga bermandi sinar mentari, setelah beberapa hari sebelumnya diselimuti kabut disertai gerimis. Kota tua nan unik, usianya yang menginjak 1261 tahun tidak menghapus keelokkannya. Aku berdiri terpaku menatap gerbang berujung lancip di depanku. Rumah kuno di seberang jalan peninggalan Belanda, berdiri membisu, menatapku penuh cemoohan. Pohon yang berdiri di depannya mengibaskan dedaunnya seolah menyapaku yang ragu. Tas ku pegang erat seolah takut akan di rampas penjahat. Hm…. Pikiran aneh…. Di kota kecil ini hal tersebut belum pernah terjadi, perampasan atau penjambretan. Mentari yang bersinar membuatku bertambah kikuk. Mataku tak lepas memandang daun pintu rumah eh.. tepatnya gedung bercat putih dari seberang tempatku memandang.
Sesekali aku melirik jarum jam yang terus berjalan, sekarang pukul 08.00 WIB berarti sudah 2 jam aku berada di tempat ini. Degup jantungku terasa cepat. Krek ….. bunyi gerbang rumah di buka membuyarkan keraguanku. Pintu gerbangnya kini terbuka lebar di hadapanku. Namun kakiku terasa terpaku di trotoar jalan Patimura.
Di seberang sana, seorang suster berkerudung strip-strip biru seperti Beata  Teresa dari Calcuta menggendong seorang bayi mungil, penuh kasih sayang dia mendekap bayi dalam gendongannya. Tangannya sebelah menuntun seorang anak lelaki kira-kira berumur 2 tahun.
Tuhan… itu anakku… naluriku mengatakan demikian. Bayi berumur 1 tahun tersebut tersenyum manis ketika sang suster menggendong bayi tersebut di depan dadanya, tepatnya menghadap ke arahku. Hm… GR…. Tak kuasa  aku melihat tangan mungil itu, menggapai-gapai jubah sang biarawati yang sekarang telah menjadi ibunya. Ya… tepatnya ibu dari anakku, yang lahir dari rahimku.
Mereka bercanda riang,  sesekali terdengar gelak tawa dari mulut mungil itu. Hatiku semakin teriris. Dia bayiku… di depan mataku namun… aku tak dapat menggapainya. Kerongkongan terasa tercekat, ingin kuteriak memanggil namanya namun…. Aku tak berani mengusiknya, cukup sekali aku membuatnya menangis…. Aku tak ingin buah hatiku terluka untuk kedua kalinya.
Air mataku bergulir satu persatu….  Aku tidak kuat berdiri terlalu lama memperhatikan separuh jiwaku sedang tertawa riang dalam balutan kasih sayang sang suster. Bayiku…. Berbaju pink, bersepatu pink dan berbando pink, dia sangat cantik…. Cerminan diriku sewaktu bayi seperti foto yang terselip dalam dompetku.
Aku kembali ke dalam mobil, aku tak ingin menjadi bahan tontonan orang yang lewat.
Eak… eak… suara itu masih terngiang di telingaku. Terburu-buru aku memasuki pintu gerbang itu, bayiku terbungkus dalam selimutnya yang lembut. Tekadku sudah bulat, aku ingin dia hidup, tapi…. Aku belum sanggup mengurusnya. Prosesnya begitu cepat, akhirnya bayiku diasuh dan dirawat penuh kasih oleh para biarawati ini. Suara tangis protesnya selalu mengiang di telingaku, wajahnya yang cantik, selalu terbayang setiap saat. Saat itu aku khilaf, aku tak dapat membawanya ke mana kakiku melangkah mencari sesuap nasi. Biarkan ada yang merawat dan mengasuh anakku.

‘Tidak… dia bayiku… aku akan menemuinya….,” tekad hatiku….
Dengan langkah gontai ku dekati mereka. Suaraku parau memanggil nama bayiku.
“Berlian ….”
Sang suster terkejut. Dipandangnya aku sesaat.
“Maaf, anda ibunya Berlian ‘kan,?” tanyanya seakan tak percaya.
Aku hanya mengangguk lesuh. Aku tak berani menatap mata kecil yang sedang  menatapku. Tangannya yang mungil menggapai tanganku.
“Berlian…. Maafkan mama….”
Tangisku pecah tak terbendung. Bayiku ku dekap.
“Terima kasih suster, telah merawat dan mengasuh anakku, aku tak ingin kehilangan dia lagi”
 

Jumat, 27 Mei 2011

SURAT UNTUK ANAK-ANAKKU (4)


 Oleh: Maria Dolvianti Bora, Kepala Sekolah KB Bentara Salatiga

Anak-anakku sayang…..
Lihatlah di belakang rumah, di atas pohon kelapa, tupai kecil melompat gesit, sedang makan kelapa karena itulah makanannya. Pemandangan demikian kerap mama saksikan ketika kalian pergi ke sekolah. Terkadang si tupai kecil bermain di halaman belakang, tanpa terusik si meong yang sedang mengawasinya dari kejauhan. Kasihan pak tani pemilik kelapa, banyak kelapa yang rusak di makan tupai, hasil kelapanya berkurang.
Hari ini pak tani datang lagi, ditemani seorang bapak bertopi caping. Oh…. Rupanya pak tani hendak memanen kelapa. Transaksi produk jasa tersebut ternyata mengunakan kelapa, pak tani bercaping mendapat upah dua butir kelapa  per satu pohon kelapa yang dipanjatnya. Bayangkan saja…. Pekerjaan yang beresiko tinggi ini hanya demikian upahnya. 
Pada musim  hujan seperti ini, batang kelapa menjadi licin dan berlumut, kalau kurang waspada maka taruhannya adalah nyawa, bila jatuh dari ketinggian pohon kelapa tersebut. Oya…. Lain lagi ceritanya yang mama dengar dari seberang tepatnya di tempat kelahiran mama. Oma bercerita bahwa tahun ini terjadi tragedy yang amat mengerikan di  kampung yang  terkenal sebagai penghasil kopra, pisang, kakao atau coklat, jambu mente, kemiri dan  hasil kebun lainnya.
Mama, terkenang masa kecil di kampung yang letaknya 17 km dari ibu kota kabupaten. Kampung yang letaknya agak terpencil ini, nampak lengang di siang hari. Para muda-mudi telah berangkat ke ladang berburu dengan matahari, ketika ayam jantan berkokok kaum muda-mudi beriringan bergegas menuju kebun. Gotong royong mereka mencangkul kebun yang biasa di sebut dengan sako seng. Secara bergilir kaum muda-mudi mencangkul kebun, membersihkan rumput, menanam padi dan jagung, menyiangi rumput, memanen hingga mengangkut hasil kebun ke rumah pemiliknya.
Suasana kampung terasa senyap di siang hari, namun terkadang terdengar tangisan anak kecil yang rewel, di sela bunyi tak – tak -  tak – tak – tak – tak irama music desa, yaitu nyanyian alat tenun para ibu atau beberapa pemudi yang sedang menenun sarung. Sesekali diselingi kotek ayam yang kelaparan mencari cacing di antara gundukan sampah di belakang rumah.
Seusai sekolah, anak lelaki menapaki jalan setapak menuju ke kebun, tangan  mungilnya memegang parang, atau pisau yang akan digunakan untuk memetik daun singkong di kebun atau daun-daun untuk makanan ternak, tidak lupa mengumpulkan kayu bakar untuk sang mama di rumah.
Anak perempuan membantu ibu  menjaga adik, ada yang bermain lompat tali yang biasa disebut juga tali merdeka, ada yang sedang bermain siput, masak-masak di halaman rumah. Ada juga yang menumbuk padi, menjaga kopra yang dijemur dari pencuri-pencuri kecil si bleky dan kawan-kawannya.  Bila senja mulai tiba, pemuda dan pemudi menyusuri jalan setapak. Dari jauh terdengar nyanyian yang merdu, biasanya nyanyian gereja. Rasa lelah terasa lenyap di tengah canda dan tawa kaum muda yang akan kembali ke rumah masing – masing.
Bila bulan purnama kaum lelaki tua muda duduk bercengkerama di tengah kampung. Berbagai topik pembicaraan  bergulir tak kenal waktu. Tentang  kuda si Liut yang  lepas dari ikatannya,  Pak Natut jatuh dari pohon kesambi beberapa hari yang lalu, kelapa pak Tinut yang sudah mulai berbuah, atap kapel kampung yang sudah mulai bocor, tenunan bu Maria yang sudah hampir selesai, rencana pertandingan voly dan berbagai topik lainnya, sederhana namun sangat menarik. Anak-anak bermain globak sodor di temani ibu-ibu sambil makan sirih pinang dan bercanda. Suasana malam purnama yang indah, tak terasa malam semakin larut, warga kampung pun kembali ke rumah untuk mengasoh, kampung yang gegap gempita, berganti senyap. Burung hantu mulai bernyanyi, bunyi jangkrik bergema di sudut halaman, binatang malam mulai melakukan kegiatannya di tengah malam, anak-anak tertidur lelap tersungging senyum di bibir-bibir mungil, hari ini puas rasanya bermain bersama.
Kini semuanya sudah tinggal kenangan. Kaum muda mudi sekarang tidak ada lagi yang mau mencangkul kebun, nyanyian di jalan-jalan setapak kampung di sore hari kini telah lenyap, bunyi tak- tak alat tenun gadis kampung kini telah tiada, berganti bunyi televisi yang menyiarkan gosip-gosip murahan tentang para artis dan kaum terkenal lainnya. Atau lagu-lagu dangdut, campur sari yang memekakkan telinga….
Kebun-kebun kampung tak terurus, kaum muda sibuk menjadi tukang ojek dari motor kreditan, para pemudi telah pergi mencari uang ke negeri seberang, kaum muda lainnya pun demikian, hanya anak-anak dan kaum ibu yang tersisa menjaga kampung, kaum bapak pun banyak yang merantau mencari ringgit dan dolar di negeri impian.
Siapa yang mau memanjat kelapa untuk diolah menjadi kopra? Hanya orang-orang dari kampung sebelah yang mau melakukannya. Untuk 200 pohon kelapa Oma harus mengeluarkan uang sebesar Rp. 600.000,00- atau per pohon pemanjat mendapat upah tiga butir kelapa. Untuk jasa pengangkutan yang sedianya gratis atau dibayar satu butir kelapa sekarang sudah berubah.
“Zaman sekarang uang benar-benar menjadi pelancar semua urusan, dan semua hal dilihat dari kacamata modern.”
Maaf, mama bukan menyalahkan jaman, bukan mengerutu karena mau yang gratisan namun apakah sifat gotong royong telah mulai pudar, yang tradisional apakah telah menjadi momok yang harus dibuang jauh-jauh karena tidak up to date lagi???
Apakah ringgit dan dollar dapat membayar tali ikatan persaudaraan dan kasih sayang antara seorang ayah dengan anak dan istrinya??? Atau apakah kekayaan materiil dapat menghantar kita kepada kebahagiaan abadi????
Bukankah sabda bahwa “manusia bukan hidup dari roti saja….” Hanya suatu petuah kuno yang tidak akurat lagi di jaman ini???? Anak-anakku,…. Mama rindukan keceriaan anak kampunng, canda dan dongeng-dongeng tentang alam nan perawan, bukan gemerlap kota yang bising, yang melunturkan nilai-nilai dan kaidah hidup sebagai manusia yang utuh.