Salam

Selamat datang di blog tercinta paud KB Bentara Salatiga. Menyajikan berbagai informasi tentang pendidikan anak usia dini kelompok bermain Bentara Salatiga. Terima kasih. Pengelola

Arsip

Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Mei 2011

SURAT UNTUK ANAK-ANAKKU (5)

Oleh : Maria D. Bora
Pengelola KB Bentara

Anak-anakku sayang….. semoga hari ini lebih baik dari yang kemarin. Mama tidak keberatan ketika uang jajanmu kamu belikan layang-layang, atau mainan lainnya. Kami sebagai orang tua bahagia bila kalian pun bahagia, apalagi dunia anak adalah dunia bermain.
Kami tidak mengharapkan nilai dari setiap mata pelajaran harus 100, 60 pun tidak ada masalah yang terpenting itu adalah hasil pekerjaanmu sendiri. Kita adalah mahkluk social, kita hidup bermasyarakat yang bernorma, kaidah, adat istiadat dan berbudaya. Semuanya tersebut bermuara pada perilaku yang kita ekspresikan dalam pergaulan setiap hari, di mana pun berada.
Romo Yansen, CM, pendiri Panti Asuhan anak istimewa “Bhakti Luhur Malang”,  pernah berkata “Saya tidak membutuhkan orang pintar untuk menangani anak-anak terlantar, yang saya butuhkan adalah yang memiliki hati untuk melayani”.  Mengapa demikian??
Jawabnya adalah bahwa “orang yang melayani atau melakukan segala kegiatan menggunakan hati, otomatis adalah orang pintar, sedangkan orang pintar belum tentu memiliki “hati” dalam melayani orang lain. Demikian pula dalam kehidupan setiap hari dalam masyarakat, di lingkungan sekolah atau di manapun. Perilaku yang baik yang kita lakukan akan mendapat respon positif namun bila perilaku kita minus maka respon yang kita peroleh pun demikian. Atau “apa yang kamu tabur maka itu pula yang kamu tuai”.
Keluarga adalah komunitas terkecil dalam kehidupan masyarakat. Tugas orang tua atau keluarga adalah mendidik dan membesarkan anak-anak. Bila semua nasehat dan petuah orang tua dapat kalian laksanakan dalam kehidupan sehari-hari maka kebahagiaan yang akan diperoleh. Sebagai seorang pelajar, jadilah pelajar yang berperilaku terpuji. Katakan “tidak “ untuk membuat kegaduhan, narkoba, gaya hidup hedon, materialistic, narsis, dan bentuk penyimpangan lain yang dapat membuat orang tua terpuruk dalam penyesalan.
Coba bacalah artikel menarik di bawah ini.
Jepang bisa membanggakan disiplin siswa-siswi negara tersebut di sekolah. Perilaku siswa Jepang di kelas itu lebih baik atau terbaik dunia. Demikian hasil penelitian internasional.
Menurut hasil penelitian tersebut, murid-murid di Jepang menempati posisi tertinggi dalam peringkat perilaku baik. Laporan dari forum kerjasama ekonomi OECD mendapati jumlah gangguan di kelas pada tahun 2009 lebih sedikit jika dibandingkan angka hasil penelitian tahun 2000.
Siswa-siswi di Inggris berperilaku lebih baik jika dibandingan perilaku rata-rata siswa di negara lain. Namun, negara dan kawasan Asia mendominasi posisi teratas di daftar peringkat perilaku terbaik.
OECD menerbitkan analisis statistik perilaku yang dihimpun sebagai bagian dari penelitian internasional forum tersebut. Penelitian itu juga membandingkan kinerja sistem pendidikan.

Penelitian OECD mencermati tingkat gangguan yang terjadi di kelas dari segi berapa lama guru harus menunggu siswa usia 15 tahun ''menjadi tenang'' dalam proses belajar. Penelitian mendapati bahwa, meski banyak pihak merisaukan perilaku buruk, kemungkinan remaja gaduh dan berulah itu menurun jika dibandingkan dengan hasil analisis internasional serupa pada 2000.
''Keyakinan umum selama ini mempercayai disiplin siswa turun dari satu angkatan ke angkatan berikutnya. Keyakinan tersebut juga mempercayai bahwa para guru kehilangan kendali atas kelas mereka. Namun, keyakinan umum itu keliru,'' kata laporan OECD. ''Antara tahun 2000 dan 2009, disiplin di sekolah ternyata tidak memburuk. Bahkan, di banyak negara disiplin siswa justru meningkat.''
Negara-negara dan kawasan di Asia menempati tujuh dari 10 tempat teratas. Tiga tempat teratas ditempati oleh negara di Eropa timur.
Dua sistem persekolahan Cina (Shangai dan Hongkong) berada di posisi empat teratas. Ini mencerminkan munculnya Cina sebagai adidaya pendidikan yang tengah bangkit.
Dalam hasil pengukuran penelitian terhadap keterampilan baca-tulis yang diterbitkan bulan Desember, sistem persekolahan Shanghai menempati posisi teratas di dunia. Dalam penelitian perilaku ini, Inggris menempati posisi ke-28 dengan skor yang menempatkan perilaku siswa Inggris di atas rata-rata. Posisi Inggris di belakang Amerika Serikat dan Jerman, tapi di atas Prancis dan Italia.
Peringkat pendidikan internasional hasil penelitian OECD ini menempatkan negara-negara Skandinavia di posisi bawah. Finlandia, yang biasanya berada di peringkat teratas urutan sekolah dunia, berada di tiga posisi terbawah. Hanya Argentina dan Yunani yang disebut mengalami gangguan lebih banyak di dalam kelas.

Jumat, 27 Mei 2011

SURAT UNTUK ANAK-ANAKKU (4)


 Oleh: Maria Dolvianti Bora, Kepala Sekolah KB Bentara Salatiga

Anak-anakku sayang…..
Lihatlah di belakang rumah, di atas pohon kelapa, tupai kecil melompat gesit, sedang makan kelapa karena itulah makanannya. Pemandangan demikian kerap mama saksikan ketika kalian pergi ke sekolah. Terkadang si tupai kecil bermain di halaman belakang, tanpa terusik si meong yang sedang mengawasinya dari kejauhan. Kasihan pak tani pemilik kelapa, banyak kelapa yang rusak di makan tupai, hasil kelapanya berkurang.
Hari ini pak tani datang lagi, ditemani seorang bapak bertopi caping. Oh…. Rupanya pak tani hendak memanen kelapa. Transaksi produk jasa tersebut ternyata mengunakan kelapa, pak tani bercaping mendapat upah dua butir kelapa  per satu pohon kelapa yang dipanjatnya. Bayangkan saja…. Pekerjaan yang beresiko tinggi ini hanya demikian upahnya. 
Pada musim  hujan seperti ini, batang kelapa menjadi licin dan berlumut, kalau kurang waspada maka taruhannya adalah nyawa, bila jatuh dari ketinggian pohon kelapa tersebut. Oya…. Lain lagi ceritanya yang mama dengar dari seberang tepatnya di tempat kelahiran mama. Oma bercerita bahwa tahun ini terjadi tragedy yang amat mengerikan di  kampung yang  terkenal sebagai penghasil kopra, pisang, kakao atau coklat, jambu mente, kemiri dan  hasil kebun lainnya.
Mama, terkenang masa kecil di kampung yang letaknya 17 km dari ibu kota kabupaten. Kampung yang letaknya agak terpencil ini, nampak lengang di siang hari. Para muda-mudi telah berangkat ke ladang berburu dengan matahari, ketika ayam jantan berkokok kaum muda-mudi beriringan bergegas menuju kebun. Gotong royong mereka mencangkul kebun yang biasa di sebut dengan sako seng. Secara bergilir kaum muda-mudi mencangkul kebun, membersihkan rumput, menanam padi dan jagung, menyiangi rumput, memanen hingga mengangkut hasil kebun ke rumah pemiliknya.
Suasana kampung terasa senyap di siang hari, namun terkadang terdengar tangisan anak kecil yang rewel, di sela bunyi tak – tak -  tak – tak – tak – tak irama music desa, yaitu nyanyian alat tenun para ibu atau beberapa pemudi yang sedang menenun sarung. Sesekali diselingi kotek ayam yang kelaparan mencari cacing di antara gundukan sampah di belakang rumah.
Seusai sekolah, anak lelaki menapaki jalan setapak menuju ke kebun, tangan  mungilnya memegang parang, atau pisau yang akan digunakan untuk memetik daun singkong di kebun atau daun-daun untuk makanan ternak, tidak lupa mengumpulkan kayu bakar untuk sang mama di rumah.
Anak perempuan membantu ibu  menjaga adik, ada yang bermain lompat tali yang biasa disebut juga tali merdeka, ada yang sedang bermain siput, masak-masak di halaman rumah. Ada juga yang menumbuk padi, menjaga kopra yang dijemur dari pencuri-pencuri kecil si bleky dan kawan-kawannya.  Bila senja mulai tiba, pemuda dan pemudi menyusuri jalan setapak. Dari jauh terdengar nyanyian yang merdu, biasanya nyanyian gereja. Rasa lelah terasa lenyap di tengah canda dan tawa kaum muda yang akan kembali ke rumah masing – masing.
Bila bulan purnama kaum lelaki tua muda duduk bercengkerama di tengah kampung. Berbagai topik pembicaraan  bergulir tak kenal waktu. Tentang  kuda si Liut yang  lepas dari ikatannya,  Pak Natut jatuh dari pohon kesambi beberapa hari yang lalu, kelapa pak Tinut yang sudah mulai berbuah, atap kapel kampung yang sudah mulai bocor, tenunan bu Maria yang sudah hampir selesai, rencana pertandingan voly dan berbagai topik lainnya, sederhana namun sangat menarik. Anak-anak bermain globak sodor di temani ibu-ibu sambil makan sirih pinang dan bercanda. Suasana malam purnama yang indah, tak terasa malam semakin larut, warga kampung pun kembali ke rumah untuk mengasoh, kampung yang gegap gempita, berganti senyap. Burung hantu mulai bernyanyi, bunyi jangkrik bergema di sudut halaman, binatang malam mulai melakukan kegiatannya di tengah malam, anak-anak tertidur lelap tersungging senyum di bibir-bibir mungil, hari ini puas rasanya bermain bersama.
Kini semuanya sudah tinggal kenangan. Kaum muda mudi sekarang tidak ada lagi yang mau mencangkul kebun, nyanyian di jalan-jalan setapak kampung di sore hari kini telah lenyap, bunyi tak- tak alat tenun gadis kampung kini telah tiada, berganti bunyi televisi yang menyiarkan gosip-gosip murahan tentang para artis dan kaum terkenal lainnya. Atau lagu-lagu dangdut, campur sari yang memekakkan telinga….
Kebun-kebun kampung tak terurus, kaum muda sibuk menjadi tukang ojek dari motor kreditan, para pemudi telah pergi mencari uang ke negeri seberang, kaum muda lainnya pun demikian, hanya anak-anak dan kaum ibu yang tersisa menjaga kampung, kaum bapak pun banyak yang merantau mencari ringgit dan dolar di negeri impian.
Siapa yang mau memanjat kelapa untuk diolah menjadi kopra? Hanya orang-orang dari kampung sebelah yang mau melakukannya. Untuk 200 pohon kelapa Oma harus mengeluarkan uang sebesar Rp. 600.000,00- atau per pohon pemanjat mendapat upah tiga butir kelapa. Untuk jasa pengangkutan yang sedianya gratis atau dibayar satu butir kelapa sekarang sudah berubah.
“Zaman sekarang uang benar-benar menjadi pelancar semua urusan, dan semua hal dilihat dari kacamata modern.”
Maaf, mama bukan menyalahkan jaman, bukan mengerutu karena mau yang gratisan namun apakah sifat gotong royong telah mulai pudar, yang tradisional apakah telah menjadi momok yang harus dibuang jauh-jauh karena tidak up to date lagi???
Apakah ringgit dan dollar dapat membayar tali ikatan persaudaraan dan kasih sayang antara seorang ayah dengan anak dan istrinya??? Atau apakah kekayaan materiil dapat menghantar kita kepada kebahagiaan abadi????
Bukankah sabda bahwa “manusia bukan hidup dari roti saja….” Hanya suatu petuah kuno yang tidak akurat lagi di jaman ini???? Anak-anakku,…. Mama rindukan keceriaan anak kampunng, canda dan dongeng-dongeng tentang alam nan perawan, bukan gemerlap kota yang bising, yang melunturkan nilai-nilai dan kaidah hidup sebagai manusia yang utuh.

Selasa, 17 Mei 2011

SURAT UNTUK ANAK-ANAKKU (2)


Anak-anakku sayang….. malam ini begitu temaram, lihatlah di sudut rumah ada binatang kecil yang terbang, di tubuhnya ada lampu kecil berkerlap kerlip indah. Sayapnya nyaris patah di dalam jaring laba-laba yang menanti untuk memangsanya. Kaki-kaki kecilnya berusaha melepaskan diri dari jeratan sang predator yang setia menunggu di ujung jaring. Semenit dua menit berlalu, akhirnya dia terlepas dari jeratan benang laba-laba. Nama binatang kecil itu kunang-kunang. Bentuknya yang mungil, dan rapuh membuatnya sering kalah melawan predator yang lebih kuat darinya.

Melihat mangsanya dapat menyelamatkan diri sang laba-laba hanya menengok lalu melanjutkan merajut jaring suatu pekerjaan yang tertunda. Semasa kecil, kami sebagai anak desa, sering mencari laba-laba yang sedang menganyam jaring. Jaringnya yang kuat, dan berwarna kuning menarik anak-anak untuk mendekat dan mencuri benangnya. Sang laba-laba hanya berlari ketakutan meninggalkan jaringnya tapi jejak masih tetap mengulurkan benang-benang baru yang terasa lengket di tangan.

Sang laba-laba berbentuk ramping, dan lucu, berwarna agak kekuningan dan hitam, paduan warna yang menakjubkan. Dari pantatnya akan terurai benang berwarna kuning bila ditarik. Tangan-tangan kecil anak desa berebut, mengulur benang tersebut, hingga lelah. Tawa dan canda berbaur menjadi satu, dari tubuh-tubuh mungil berkeringat, wangi bunga-bunga liar yang tersunting di rambut-rambut tak terurus.

Pernahkah terpikirkan siapa yang menciptakan semuanya??? Siapa yang menganyam helai demi helai kembang tasbih yang berdiri di antara semak-semak liar? Pernahkah terbersit nama Tuhan sang penciptaNya. Semuanya berbaur dalam tawa riang dan celetukkan spontan “Aduh…. Indahnya… bunga yang di ujung semak, hai lihat….. bunga tasbih sudah mekar, ayo kita petik, aku dapatkan segerombolan ulat kayu di pokok kayu yang tumbang, akhirnya rasa takjub dan syukur membahana dari bukit tempat bermain anak desa.

Di ujung bukit tumbuh pohon jambu batu, buahya lebat dan berwarna merah… di atas ranting yang cukup rendah. Anak desa melupakan laba-laba dan bunga-bunga peyunting rambut, semua berlari memetik jambu sambil tertawa girang. Di bawah pohon jambu yang rindang di atas bukit bersemak, anak desa duduk beristirahat, mulut-mulut kecil mengunyah jambu, pelepas dahaga dan rasa lapar.

Mentari mulai bergeser ke ujung Barat, anak desa berduyun-duyun meninggalkan bukit, sambil menjunjung makanan ternak, ada yang membawa kayu bakar di pundaknya, permainan hari ini selesai, semuanya tertawa girang, mandi di kali, sebelum pulang ke rumah masing-maisng, di desa yang berhawa dingin dan berkabut tebal. Suatu jadwal kehidupa telah dilalui hari ini di tengah bukit, tempat anak desa menyatu dengan alam.

Oleh : Maria D. Bora

Minggu, 15 Mei 2011

SELAMATKAN ANAK BANGSA

Oleh: Maria D. Bora, Kepala Sekolah KB Bentara Salatiga

Sistem pemasaran produk pada dasawarsa sekarang, telah membawa dampak yang luar biasa bagi pelaku bisnis tersebut. Produk yang dihasilkan selalu mendapat sambutan yang hangat bahkan masyarakat sangat antusias ingin memiliki produk tersebut. Bila ditelaa secara cermat, ketertarikan masyarakat atau konsumen terkadang hanya karena gengsi atau suatu prestise tanpa melihat “fungsi” dari produk yang dibelinya tersebut.

Situasi ini sudah sangat memprihatinkan, tak jarang orang menggunakan segala cara halal maupun tidak halal untuk memperoleh produk yang diinginkan, misalya dengan merampok, mencuri, menipu, dan berbagai modus operandi lainnya, bahkan walau harus menghabiskan nyawa orang sekalipun, untuk memperoleh produk tersebut.

Sungguh ironis, seorang siswa kelas V di Kediri (Kompas online, 13 Mei 2011, siswa ini berani mencuri sepeda motor, hanya untuk “jalan-jalan”. Di lihat dari segi manapun, perbuatan siswa ini tidak dapat dibenarkan. Namun, kita juga tak dapat sepenuhnya menyalahkan siswa tersebut. Semuanya kita kembalikan lagi kepada 1). Pendidikan yang dilakukan oleh orang tua di dalam keluarga, 2) Pengaruh pola dan tingkah laku masyarakat di sekitarnya, 3) Pendidikan tata nilai, moral dan etika yang diperoleh baik dalam keluaraga, sekolah, dan masyarakat.

Akhirnya, hal tepat yang dapat kita lakukan adalah dengan mengambil tindakan atau pendidikan yang benar, sesuai dengan tata nilai, etika, moral dan agama yang ada sebagai langkah prefentif agar dapat menyelamatkan generasi bangsa dari ketidaktahuan akan yang benar dan yang salah, yang boleh dan yang hendaknya tidak boleh dilakukan karena melanggar hukum, agama, dan moral serta etika yang berlaku.

Marilah kita selamatkan anak cucu kita dari kehancuran melalui pola didik yang benar, yang sesuai dengan etika, moral, agama dan teladan hidup, jangan biarkan mereka remuk karena ketidaktahuan mereka akibat kelalaian kita sebagai orang tua yang bertanggung jawab.