Salam

Selamat datang di blog tercinta paud KB Bentara Salatiga. Menyajikan berbagai informasi tentang pendidikan anak usia dini kelompok bermain Bentara Salatiga. Terima kasih. Pengelola

Arsip

Tampilkan postingan dengan label anak usia dini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak usia dini. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 April 2011

BENTARA

BENTARA

oleh: Y.KOPERTRISNO.D.S.FIL

dipersembahkan untuk : Franco ,Frenco, Angel, Magnus, Theodora, Wulandari

Bentara...

Bergetar jiwaku di kala hening

Energi cinta mengalir di dalam rasa

Nyatakan ikhtiar dan ikrar pada Allah

Tanamkan bakti bukti bagi nusa dan bangsa

Amalkan pengabdian bagi generasi penerus

Riwayatkan takdir ilmu di antara anak-anak

Atas dasar kasih, kesetiaan dan tanggung jawab

Kamis, 20 Januari 2011

PENTINGNYA PENDIDIKAN DALAM KELUARGA

Oleh: Maria Dolvianti Bora
Pengelola KB Bentara Salatiga

A. Pendahuluan
Era globalisasi yang serba cepat, terbuka, disertai adanya persaingan bebas, terutama melalui media informasi menyebabkan serasa tidak ada jarak, baik waktu maupun tempat. Peristiwa di kota-kota, bahkan di negara-negara lain dengan mudah dan cepatdapat diakses oleh seluruh masyarakat. Hal tersebut akan sangat mempengaruhi pola hidup yang cenderung materialistik dan individualistik serta lunturnya budaya kebersamaan dalam gotong royong.
Akibatnya mulai sulit ditemukan sopan santun dan kepedulian sosial. Gaya hidup konsumeristik dengan kemewahan merupakan fenomena umum yang dapat menyebabkan cara pencapaiannya melalui jalan pintas. Maka untuk membentengi keluarga-keluarga tersebut, cara tepat adalah dengan pendidikan agama, budi pekerti dan sikap mental yang dimulai dari keluarga.
Pendidikan sangat penting dilaksanakan sebagai dasar bagi pembentukan kepribadian manusia secara utuh yaitu untuk pembentukan karakter, budi pekerti luhur, cerdas, ceria, terampil dan bertakwa pada Tuhan Yang Maha Esa.
Perkembangan anak pada tahun-tahun pertama sangat penting dan akan menentukan kualitasnya di masa depan. Anak adalah individu yang unik, berbeda dan memiliki karakteristik tersendiri sesuai dengan tahapan usianya. Perkembangan pribadi manusia meliputi beberapa aspek perkembangan fisiologis, psikologis, sosial dan didaktis/pedagogis. Tahap-tahap perkembangan tersebut tidak sama. Berikut ini dikemukakan tahap-tahap perkembangan pada tiap-tiap aspek secara umum.
a. Tahap-tahap perkembangan fisiologis
Perubahan fisiologis adalah perubahan kualitatif terhadap struktur dan fungsi-fungsi fisiologis. Menurut Sigmund Freud seorang psikoanalis dengan pandangannya menekankan, bahwa kehidupan pribadi manusia pada dasarnya adalah “libido seksualis”. Beliau mengemukakan pendapatnya bahwa pribadi manusia mengalami perkembangan dengan dinamika yang tidak stabil sejak manusia dilahirkan sampai usia 20 tahun. Perkembangan dari lahir sampai usia 20 tahun ini menurut Freud menentukan bagi pembentukan pribadi manusia.
b. Tahap-tahap perkembangan psikologis
Menurut Jean Jacques Rousseau (1712-1778), perkembangan fungsi dan kapasitas kejiwaan manusia berlangsung dalam 5 tahap, sebagai berikut :
1. Tahap perkembangan masa bayi (sejak lahir-2 tahun).
2. Tahap perkembangan masa kanak-kanak (2 s/d 12 tahun).
3. Tahap perkembangan pada masa preadolosen (12 tahun-5 tahun)
4. Perkembangan pada masa adolosen (15 – 20 tahun)
5. Masa pematangan diri (setelah umur 20 tahun)
c. Tahap-tahap perkembangan secara pedagogis.
Mengenai pembagian tahap perkembangan pribadi manusia bila ditinjau dari sudut tinjauan teknis umum penyelenggaraan pendidikan. Menurut Jhon Amos Comenius (1952), dibagi menjadi 5 tahap, yaitu :
1. Tahap enam tahun pertama
2. Tahap enam tahun kedua
3. Tahap enam tahun ketiga
4. Tahap enam tahun keempat
5. Tahap kematangan pribadi
Mengenai tahap-tahap perkembangan pribadi dari sudut tinjauan teknis khusus perlakuan pendidikan, secara otomatis dilandaskan pada tingkat perkembangan psikologis anak didik :
1. Tahap kematangan pribadi
2. Tahap perkembangan vital
3. Tahap perkembangan ingatan
4. Tahap perkembangan keakuan
5. Tahap perkembangan pengamatan
6. Tahap perkembangan intelektual
7. Tahap perkembangan pra-remaja
8. Tahap perkembangan remaja
B. Tantangan Keluarga Masa Kini
Akhir-akhir ini kita dikejutkan oleh penemuan bayi di sebuah SMA di Surabaya. Orok yang masih merah tersebut ditemukan dalam keadaan mengenaskan, dengan tangan terikat, dan tak bernyawa lagi di sekolah tersebut. Bayi tanpa dosa tersebut dibunuh oleh sang ibu yang nota bene masih berstatus sebagai pelajar kelas X. Alasan pembunuhan ini pun mengundang kegetiran bagi kita semua.
Secara psikologis sang ibu belum siap menjadi seorang ibu, namun akibat dari ulahnya “bermain asmara” menyebabkan dirinya kalut sehingga mengambil jalan pintas yaitu “membunuh” bayi yang berasal dari rahimnya sendiri.
Pengguguran kandungan (aborsi) merupakan salah satu penyebab tingginya kematian ibu di Indonesia. Tragisnya, 15 % sampai 30% dari pelaku adalah remaja yang masih berstatus siswa SMP dan SMA. Jumlah kasus aborsi yang dilakukan remaja tercatat sebanyak 2,3 juta setiap tahun. Ini menunjukkan rentannya remaja terhadap masalah-masalah yang berkaitan dengan “asmara”.
Aborsi merupakan keputusan terakhir ketika remaja dihadapkan pada sebuah dilema, meneruskan kehamilan sambil membawa aib keluarga atau menghentikan kehamilan dengan cara membunuh calon jabang bayi yang tak berdosa di dalam kandungan. Uniknya, remaja yang kebablasan sampai akhirnya melakukan aborsi banyak dilakukan oleh mereka yang pendiam.
Menurut dr. Boyke Dian Nugraha, Sp.OG.,MARS, yang banyak mendatangi beliau untuk mengadu adalah gadis-gadis pendiam. Banyak orang tua menganggap, kalau penampilan anak wanitanya yang kalem dan pendiam, lantas merasa aman. Justru gadis seperti inilah yang sebelumnya jarang berpacaran, begitu berpacaran sering keblablasan.
Iman merupakan “rem” yang paling pakem dalam berpacaran. Penilaian tentang pasangan hendaknya dilakukan ketika masa pacaran tersebut. Calon pasangan yang baik adalah mereka yang mau menjaga kehormatan temannya hingga menjadi pasangan suami istri yang sah. Di sini peranan keluarga sangat penting dalam memberikan pendidikan moral, dan seks yang benar kepada anak sehingga terhindar dari tingkah laku yang merugikan diri dan keluarga tersebut.
C. Pentingnya pendidikan seks dan kesehatan reproduksi bagi remaja
Masih tingginya kasus aborsi pada remaja, sebagai akibat tidak adanya atau kurangnya pendidikan seks dan kesehatan reproduksi terhadap kaum remaja. Akibatnya, aborsi yang tidak benar itu menjadi salah satu penyebab tingginya angka kematian ibu yang hingga sekarang menempati ranking tertinggi se-Asia Tenggara.
Untuk menjawab keingintahuan remaja tentang pendidikan seks dan alat reproduksi maka diperlukan pendidikan seks dan alat reproduksi bagi remaja. Apabila ini tidak dilakukan maka remaja sering mencaritahunya melalui internet, tayangan VCD porno atau buku-buku porno lainnya.
Dan disinilah menjadi akar dari persoalan yang berkaitan dengan pergaulan seks bebas remaja, aborsi dan semua tingkah yang menyimpang seperti pelecehan seksual, pemerkosaan, sodomi, dan lainnya. Bila kita temukan hal tersebut siapa yang hendak dipersalahkan?
Memang tak dapat dipungkiri bahwa bagi budaya kita, pendidikan seks masih dianggap tabu untuk dibicarakan secara terbuka dan transparan, namun dengan perkembangan informasi yang semakin pesat dan kecanggihan teknologi yang ada justru dapat pula menjerumuskan remaja dalam kehidupan seks yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku.
Budaya permisif sebagai orang timur, memiliki dampak positif namun dalam kaitan dengan pendidikan seks dan kesehatan reproduksi, merupakan suatu kebutuhan yang mendesak. Para orang tua di tuntut untuk memberikan pengetahuan dan pendidikan tentang seks dan kesehatan reproduksi karena informasi yang benar dari orang tua akan menjadi kunci bagi remaja dalam memaknai arti seks dan menjaga alat reproduksi dengan baik.
Keluarga adalah tempat pendidikan yang pertama bagi anak, tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan, maka orang tua dituntut pula untuk mau meluangkan waktu lebih banyak dalam berkomunikasi dengan anak-anaknya.Dengan adanya pendidikan seks yang diterima dari keluarga, remaja memiliki pengetahuan yang memadai sehingga mereka akan lebih berhati-hati dalam pergaulan dengan teman sebayanya.
Komunikasi yang intens dalam keluarga, akan melahirkan jalinan atau relasi yang kuat antara satu dengan lainnya. Dalam jalinan relasi yang kuat ini, memunculkan rasa percaya satu dengan lainnya. Hal ini menjadi dasar bagi pendidikan moral. ahklak, agama bagi anak, karena landasan yang kokoh yang dibangun dalam suasana keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang.
Konsep diri dan kepercayaan anak terhadap keluarganya akan memberikan peluang bagi anak untuk membuka diri terhadap pendidikan yang diberikan oleh orang tua. Salah satu pendidikan yang penting bagi anak yaitu pendidikan seks dan kesehatan reproduksi tersebut.
Lain halnya yang terjadi pada siswi yang membunuh anaknya, dari pengakuan beberapa sahabatnya, siswi tersebut memiliki sikap yang pendiam. Ironisnya, bahwa sang ibu sama sekali tidak mengetahui anaknya sedang hamil. Hal ini menunjukkan adanya ketimpangan komunikasi dalam keluarga tersebut. Walau pun sering alasan yang dikemukakan sangatlah klise “orang tua sibuk mencari nafkah” dan “sangat percaya bahwa anaknya tidak mungkin berbuat di luar dari norma yang berlaku”, akhirnya kenyataan pahitlah yang diterima seperti kasus di atas.
D. Pendidikan agama sebagai landasan kokoh bagi remaja
Semua agama mengajarkan kebaikan dan perilaku yang bermoral. Aborsi karena alasan apapun sebenarnya dilarang oleh agama. Agar larangan tersebut tidak dilanggar maka pendidikan agama hendaknya menjadi prioritas utama dalam setiap keluarga Indonesia.
Seperti fenomena yang pernah menjadi pemberitaan hangat di negeri kita pada beberapa waktu lalu, tentang efek negatif dari adanya facebook. Terjadi beberapa kasus yang menimpa remaja misalnya kasus pelecehan seksual, penculikan bahkan pemerkosaan yang dilakukan oleh teman baru yang dikenal lewat facebook, kejadian ini membuat gerah dan khawatir orang tua yang memiliki anak remaja.
Bila diteliti lebih lanjut, siapakah yang bersalah dalam persoalan ini? Dunia yang semakin pesat berkembang ini telah membuat kalangan orang tua pun membuat pilihan yang salah dalam memfasilitasi anaknya. Dalam pengertian bahwa orang tua hanya memberikan fasilitas namun tidak di dukung dengan kontrol dan pendampingan sehingga ketika sang anak yang merasa diberi kesempatan dapat pula salah menggunakannya. Ketika akibat lanjutnya adalah hal-hal yang menyimpang seperti yang dikatakan di atas, barulah orang tua dapat membuka matanya akan kelalaian yang telah dilakukannya dalam mendidik anak.
Hal ini tidak terjadi bila anak dibekali dengan pendidikan agama yang memadai, dan adanya pendampingan yang serius dari orang tua melalui penyediaan fasilitas penyaluran bakat/hobi anak. Dengan penyaluran yang positif tersebut maka remaja memiliki banyak kesempatan untuk mengembangkan potensi dirinya sesuai dengan kecerdasan yang dimilikinya.
Terdapat 9 tips berdamai dengan remaja :
1. Memberi kepercayaan kepada remaja untuk membuat keputusan yang bertanggung jawab dengan semua risikonya.
2. Dorong remaja untuk melakukan aktivitas sosial yang akan meningkatkan rasa percaya diri. Hal ini akan membuat remaja merasa dibutuhkan, dan berguna, sekaligus mengajarkan remaja untuk beramal.
3. Perlakukan remaja selayaknya sesuai dengan keberadaannya sebagai seorang remaja.
4. Jika remaja berbohong, maka beri kesempatan untuk dia meluruskan ceritanya, dengan demikian dia tidak akan mengulangi perbuatannya lagi, karena bila didesak maka remaja akan mempertahankan kebohongannya sulit memperbaiki kelakukan buruknya.
5. Ajarkan remaja untuk bersikap tidak berlebihan bila “dia” menyukai lawan jenisnya, agar terhindar dari segala hal yang dapat merugikan dirinya dan orang lain.
6. Beri bacaan yang serius. Pada usia 15-16 tahun, memiliki kemampuan berpikir tentang hal-hal yang abstrak dan kepekaan terhadap sesuatu berkembang pesat. Remaja sudah siap memikirkan masalah-masalah yang serius seperti sosial dan mempertanyakan nilai-nilai moral secara mendalam.
7. Buatlah secara bersama peraturan dan jadwal kegiatan sehari-hari di dalam keluarga dengan hukuman yang tegas bila peraturan tersebut dilanggar.
8. Tidak ada remaja yang 100% berperilaku sesuai dengan aturan yang telah di buat bersama. Bila remaja melakukan pelanggaran dari aturan tersebut maka berilah pengertian agar remaja mau menerima konskuensi dari pelanggarannya secara sadar bila dia melakukan kesalahan yang sama di lain waktu.
9. Ajari remaja sejak dini menyangkut disiplin dan nilai-nilai etika serta agama sesuai dengan keyakinan yang dianut, jika hal ini dilakukan sejak dini maka keruwetan persoalan ketika anak mencapai usia remaja dapat dihindarkan.


DAFTAR PUSTAKA

Asmawai, Luluk, dkk. Pengelolaan Pengembangan Anak Usia Dini. Jakarta : Universitas Terbuka, 2008.
Gemari/Edisi 42. Tahun V/Juli 2004.
Gemari/Edisi 62/Tahun VII-Maret 2006.
Soemanto, Wasty, Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta, 2003.

Sabtu, 01 Mei 2010

TANTANGAN BAGI PROFESIONALISME TENAGA PENDIDIK AUD DI ERA MILLENIUM

Stefan Sikone & Maria D. Bora

Kasih orang tua yang sejati adalah suatu sikap hati dan bukan semata-mata tutur kata yang manis ataupun sikap yang positif. Kasih orang tua yang hanya berlandaskan tujuan untuk kebaikan si anak akan menutupi banyak kesalahan serta kelemahan orang tua dalam usaha untuk membesarkan anak.
Orang tua yang benar-benar mengasihi anaknya akan bersedia mengorbankan diri dan kehendak mereka demi terciptanya suasana keluarga yang harmonis di mana buah hati mereka dapat merasa bahwa ia benar-benar merupakan bagian dari keluarganya, diterima sebagaimana adanya, dan kehadirannya didambakan keluarganya.
Setiap anak membutuhkan kasih tanpa pamrih. Orang tua yang benar-benar mengasihi anaknya, akan tetap mengasihi walau pun kaki atau tangan sang anak terkilir, hatinya bersungut-sungut, atau mulutnya yang mungil dicibirkan sambil menantang.
Setiap anak membutuhkan kasih yang tidak mementingkan diri sendiri. Ia butuh dikasihi sebagai suatu pribadi yang unik, bukan karena kepuasan emosional yang diberikannya kepada orang tuanya. Orang tua perlu mengenal dan menghargai anak sebagai seorang individu.
Teori di atas merupakan suatu tantangan tersendiri bagi tenaga pendidik AUD. Sebagai pendidik AUD, dibutuhkan basic pendidikan dan ketrampilan yang sesuai dengan bidang tugas yang diemban. Seperti yang kita ketahui bahwa pendidikan khusus tersebut pada era 80’an masih kita jumpai di setiap daerah di tanah air, dengan adanya Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Namun dengan bergulirnya waktu, sekolah-sekolah inipun telah ditutup.

Kebijakan pemerintah dalam kaitan dengan penutupan sekolah-sekolah tersebut, secara teoritis memiliki dasar hukum dan hasil analisis yang cermat. Yang menjadi persoalan sekarang adalah bahwa seiring dengan perkembangan jaman, kebutuhan individu makin berkembang dan tambah banyak. Manusia dituntut untuk dapat mengembangkan sumber daya alam yang ada dengan sebaik-baiknya demi kebahagiaan manusia itu sendiri. Dalam hal ini, dibutuhkan sumber daya manusia yang memadai, memiliki profesionalisme di bidangnya, kreatif dan inovatif.
Walau demikian adalah apakah sumber daya manusia para pendidik AUD ini benar-benar profesional dan memiliki wawasan yang memadai tentang bidang tugasnya? Apakah pendidikan dan latihan yang diperoleh selama ini telah menjawab kebutuhan para pendidik AUD akan “rasa haus” mereka terhadap basic pelayanan terhadap anak secara holistik?
Pertanyaan ini mengugah penulis untuk menuangkan hasil refleksi tentang pelayanan AUD berlandaskan teori perkembangan anak.
Teori tentang kasih orang tua terhadap anak di atas, secara eksplisit maupun implisit menunjukkan bahwa sebenarnya semua anak memiliki hak yang sama. Maka peranan pendidik AUD sangat urgen, sebagai pengganti orang tua bagi AUD, selama berada di sekolah atau taman bermain.
AUD membutuhkan kasih sayang, perhatian, penerimaan apa adanya, dan kebutuhan lainnya, karena masing-masing anak adalah unik, maka tugas pekerja sosial adalah mengasihi anak asuh dengan ihklas, tulus, menerima mereka apa adanya, sehingga dapat menghasilkan generasi baru yang tangguh, mandiri, dan berguna bagi dirinya, nusa dan bangsa.
***
Secara teoritis dikemukakan oleh para ahli pendidikan dan psikolog bahwa anak hendaknya mendapatkan pengasuhan dan perlindungan yang tepat. Hal ini penting guna memberikan stimulasi yang sesuai dengan usia, perkembangan dan kebutuhan setiap anak.
Seorang bayi yang baru lahir mempunyai lebih dari 100 miliar sel otak. Selama sembilan bulan masa kehamilan, paling tidak setiap menit dalam pertumbuhan otak diproduksi 250 ribu sel otak (Madeleine J Nash, 1997).
Sel-sel otak ini terbentuk karena stimulasi dari luar otak. Setiap sel otak saling terhubung dengan lebih dari 15 ribu simpul elektrik kimia yang snagat rimit sehingga bayi yang berusia 8 bulan pun diperkirakan memiliki biliunan sel syaraf di dalam otaknya.
Sel-sel syaraf harus sering distimulasi dan didayagunakan agar terus berkembang jumlahnya dan terorganisir fungsinya secara teratur (ordely) dan dapat digunakan (usable). Jika tidak jumlahnya akan semakin berkurang atau fungsinya akan beralih ke tugas-tugas lain di luar pengembangan kecerdasan. Otak anak terdiri dari neuron (sel-sel syaraf yang sangat lembut) yang mampu menganalisis, mengkoordinasi, dan menyimpan semua informasi yang diterima lewat indra (Lise Eliot, 2004).
Faktor genetik (nature) dan faktor lingkungan (nurture) mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap pembentukan dan kemampuan otak. Stimulasi lingkungan dengan menyediakan lingkungan yang sehat dan sesuai dengan tahap perkembangan anak pada awal-awal masa pertumbuhan anak sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak selanjutnya. Stimulasi perlu diberikan sejak anak lahir. Hal ini memiliki alasan yang kuat karena berdasarkan hasil penelitian longitudinal “…… bahwa 50% perkembangan kecerdasan anak terjadi pada usia 0-4 tahun maka disebut masa emas (golden age) untuk perkembangan kecerdasan anak, 30% perkembangan selanjutnya terjadi pada usia 4-8 tahun dan usia 8-12 tahun perkembangan dan pertumbuhan terjadi hanya 20% saja dan selebihnya 10% perkembangan kecerdasan terjadi pada usia sekitar 12-18 tahun (Direktorat PADU, 2004).
Howard Garder dari Universitas Harvard mengembangkan teori yang menyatakan bahwa setiap anak terlahir dengan kombinasi delapan inteligensi yang paling dikuasainya yang meliputi :
1. kecerdasan linguistik (Linguistic intelligence) yang dapat berkembang apabila dirangsang melalui berbicara, mendengarkan, membaca, menulis, berdikusi dan bercerita. Memudahkan anak dapat menguasai kosa kata yang sangat banyak dan mengingat fakta secara kata demi kata.
2. kecerdasan logika-matematika (logico mathematiccal intelligence) yang dapat dirangsang melalui kegiatan menghitung, membedakan bentuk, menganalisis data, dan bermain dengan benda-benda. Memudahkan anak mampu membuat kategori, mengajukan, pertanyaan, melakukan percobaan dan memahami segala sesuatu.
3. kecerdasan visual-spasial (visual-patial intelligence) yaitu kemampuan ruang yang dapat dirangsang melalui bermain balok-balok dan bentuk–bentuk geometri, melengkapi puzzle, menggambar, melukis, menonton film, maupun bermain dengan daya khayal (imajinasi). Kecerdasan ini memudahkan anak mengingat apa yang dilihat, mampu membaca peta dan mahir dalam hal warna dan gambar.
4. kecerdasan musikal (musical/rhythmic intelligence) yang dapat dirangsang melalui irama, nada, birama, berbagai bunyi dan bertepuk tangan. Memudahkan anak untuk dapat mengingat melodi, tempo, memainkan alat musik dan suka bernyanyi atau berdendang.
5. kecerdasan kinestetik (body/kinesthetic inteligence) yang dapat dirangsang melalui olahraga atau seni melalui gerakan tubuh seperti menari dan senam. Memudahkan anak dapat memiliki tubuh yang lentur, dapat mengekspresikan kemampuan olahraga atau seni melalui gerak tubuh dan mahir dalam melakukan motorik halus.
6. kecerdasan natural (naturalist intelligence) yaitu mencintai alam, yang dapat dirangsang melalui pengamatan lingkungan, bercocok tanam, memelihara binatang, termasuk mengamati fenomena alam seperti hujan, angin, banjir, pelangi, siang malam, panas dingin, bulan dan matahari. Memudahkan anak menyukai kegiatan di alam terbuka, mempunyai rasa ingin tahu yang besar dan menguasai ciri-ciri alam sekitar.
7. kecerdasan interpersonal (interpersonal intelligence) yaitu kemampuan untuk membina relasi antar manusia (bersahabat) yang dapat dirangsang melalui bermain bersama teman, bekerjasama, bermain peran, memecahkan masalah dan menyelesaikan konflik. Memudahkan anak mampu memahami orang lain, mampu memimpin, dan mengorganisir orang lain. Mempunyai banyak teman, sering diminta pendapatnya dalam pengambilan keputusan, menjadi penengah dalam konflik dan senang bergabung dalam kelompok.
8. kecerdasan intrapersonal (intrapersonal intelligence) yaitu kemampuan untuk memahami diri sendiri yang dapat dirangsang melalui pengembangan konsep diri, harga diri, yang dapat dirangsang melalui pengembangan konsep diri, harga diri, mengenal diri dan disiplin. Memudahkan anak dapat memahami diri sendiri dengan baik, orisinil, suka bekerja sendiri untuk memenuhi minat dan cita-cita dirinya dan mampu membedakan benar dan salah dengan baik.
9. kecerdasan spiritual (spiritual intelligence) yaitu kemampuan mengenai mencintai ciptaan Tuhan, yang dapat dirangsang melalui penanaman nilai-nilai moral dan agama. Memudahkan anak mampu memahami hal yang benar dan yang salah. Membangun kapasitas kecerdasan spiritual akan mempengaruhi setiap aspek kehidupan anak pada masa sekarang dan juga kualitas hubungan anak di masa depan.
Pendekatan pelaksanaan menu pembelajaran
Pelaksanaan menu pembelajaran didasarkan pada pendekatan-pendekatan sebagai berikut :
1. Berorientasi pada kebutuhan anak. Kegiatan pengembangan pada AUD harus selalu berorientasi pada kebutuhan anak untuk mendapatkan layanan pendidikan, kesehatan dan gizi yang dilaksanakan secara integratif dan holistik.
2. Belajar melalui bermain. Bermain merupakan pendekatan dalam melaksanakan kegiatan PAUD, dengan menggunakan strategi, metode, materi/bahan dan media yang menarik agar mudah diikuti oleh anak. Melalui bermain anak diajak bereksplorasi (penjajagan), menemukan, dan memanfaatkan benda-benda di sekitar.
3. Kreatif dan inovatif. Proses kreatif dan inovatif dapat dilakkan melalui kegiatan-kegiatan yang menarik, membangkitkan rasa ingin tahu anak, memotivasi anak untuk berpikir kritis, dan menemukan hal-hal baru.
4. Lingkungan yang kondusif. Lingkungan harus diciptakan menarik dan menyenangkan, dengan memperhatikan keamanan dan kenyamanan anak dalam bermain.
5. menggunakan pembelajaran terpadu. Model pembelajaran terpadu yang beranjak dari tema yang menarik anak 9center of interest) dimaksudkan agar anak mampu mengenal berbagai konsep secara mudah dan jelas sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi anak.
6. Mengembangkan ketrampilan hidup melalui pembiasaan-pembiasaan agar mampu menolong diri sendiri (mandiri), disiplin, mampu bersosialisasi, dan memperoleh keterampilan hidup.
7. Menggunakan berbagai media dan sumber belajar, dapat berasal dari alam atau sengaja dipersiapkan.
8. Stimulasi terpadu. Dalam satu kegiatan dapat dikembangkan beberapa aspek perkembangan aak sekaligus.
***
Berdasarkan pembahasan di atas maka, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Anak asuh merupakan suatu insan yang berhak memperoleh kasih sayang, perhatian, dan pelayanan serta pendidikan sesuai dengan tahap perkembangan mereka, karena mereka adalah asset pembangunan bangsa yang harus diberikan stimulasi untuk peningkatan sumber daya manusia secara holistik demi pencapaian generasi yang berkualitas.
2. Dalam proses perkembangannya, anak memiliki keunikan sehingga pelayanan yang diberikan pun hendaknya berlandaskan pada kecenderungan kecerdasan yang dimiliki oleh anak, sehingga tujuan pelayanan dapat berhasil secara maksimal.
3. terdapat tiga peran PAUD yaitu :
a. Pendidikan sebagai proses sosialisasi
b. Pendidikan sebagai proses belajar dalam diri anak
c. Pendidikan sebagai proses pembentukan kerjasama peran.

Daftar Pustaka/Rujukan

Buku-buku :
Asmawati, Luluk, dkk. (2008). Pengelolaan Kegiatan Pengembangan Anak Usia Dini, Jakarta : Universitas Terbuka.

Cardoso, Faustino, Gomes. (1995). Manajemen Sumber Daya Manusia, Yogyakarta : Andi Offset.

D., Widarmi Wijana, dkk, 2008, Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini, Jakarta : Universitas Terbuka.

Howard, P. (2000). The Ownwe’s Manual for The Brain, Everyday Applications from Mind-Braon Research. United States : Bard Press.

Linda S. Nelson. (2000). Child Care Administraton Illionsis : The Goodheart-Wilcox Company, Inc.

Karen Stephen. (2004). Child and Adult Care Professionals. New York : Toddlers. Washington Teaching Strategies.

Buletin :
Info, No. 10 Des 90-Jan-Pebr 91, Jawa Tengah : BKKKS.

Info, No. 16 Juni- Juli – Agust 92, Jawa Tengah : BKKKS.

Artikel ini dikutip dari buletin bulanan KB Bentara edisi No 1 Th 1 Februari 2010